Scroll untuk baca Berita

Pasang Iklan, Advertorial dan Kirim Release, klik disini
Daerah

Dorong Literasi Media, HUT Ke-13 Harian TR Gelar Pelatihan Jurnalistik 2026 untuk Guru dan ASN

7
×

Dorong Literasi Media, HUT Ke-13 Harian TR Gelar Pelatihan Jurnalistik 2026 untuk Guru dan ASN

Sebarkan artikel ini

detaktangsel.com, CIPUTAT – Pelatihan Jurnalistik dan Literasi Media 2026 digelar media cetak regional Harian Tangerang Raya (TR) di Blandongan, Lt. 4 Puspemkot Tangerang Selatan, Kamis (12/2/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-13 Tangerang Raya dan Hari Pers Nasional (HPN), dengan melibatkan guru dan aparatur sipil negara (ASN) sebagai peserta utama.

Acara tersebut menghadirkan Ketua Umum Forum Pimred Multimedia, Bernadus Wilson Lumi, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Bernadus menekankan pentingnya pemahaman jurnalistik bagi guru dan ASN di tengah derasnya arus informasi digital.

Menurutnya, literasi media menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi tenaga pendidik dan aparatur pemerintah yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Menulis itu bisa dilakukan siapa saja. Tidak harus melalui pendidikan khusus untuk menjadi penulis. Termasuk wartawan, itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau belajar dan berlatih,” ujar Bernadus di hadapan peserta.

Ia menjelaskan, bagi guru, keterampilan jurnalistik dapat meningkatkan literasi media siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar materi akademik, tetapi juga sebagai pendidik karakter dan penyampai informasi publik yang benar dan bertanggung jawab.

“Seorang guru tidak serta-merta hanya mengajar di depan kelas. Guru juga menyampaikan nilai, etika, dan cara bersikap kepada masyarakat. Itu bagian dari pendidikan literasi,” katanya.

Sementara itu, bagi ASN, kemampuan jurnalistik dinilai penting dalam menyampaikan kebijakan publik secara efektif, transparan, dan mudah dipahami masyarakat.

Dengan pemahaman dasar jurnalistik, ASN diharapkan mampu mengemas informasi resmi instansi menjadi lebih komunikatif tanpa mengurangi substansi.

Bernadus yang mengaku memiliki latar belakang dunia pendidikan sebelum terjun ke jurnalistik, menyebut profesi wartawan dan guru memiliki irisan yang kuat dalam hal edukasi.

“Saya merasa tidak salah menjadi wartawan. Karena ketika menjadi wartawan, saya kembali seperti menjadi guru. Kita menyampaikan materi, membimbing, dan memberi pemahaman kepada publik,” ungkapnya.

Dalam sesi materi, ia juga mengangkat pertanyaan mendasar: mengapa guru dan ASN perlu memahami jurnalistik? Setidaknya ada tiga alasan utama, yakni peran sebagai penyampai informasi publik, peningkatan literasi media di lingkungan kerja dan pendidikan, serta penguatan komunikasi kebijakan yang akurat dan beretika.

Pelatihan ini berlangsung interaktif dengan diskusi seputar teknik dasar penulisan berita, struktur 5W+1H, verifikasi informasi, serta etika jurnalistik di era digital. Peserta juga diajak memahami tantangan hoaks dan pentingnya penyaringan informasi sebelum disebarluaskan.

Dengan digelarnya Pelatihan Jurnalistik dan Literasi Media 2026 ini, pemerintah daerah bersama komunitas pers berharap guru dan ASN mampu menjadi agen informasi yang kredibel, edukatif, dan bertanggung jawab di tengah dinamika komunikasi publik yang semakin cepat dan kompleks.
(Red/Zal)