TANGSEL, detaktangsel.com – Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Syamsul Haryanto, menyebut masih terdapat sekitar lima hingga enam gudang bahan kimia di kawasan Taman Tekno BSD, Kecamatan Setu. Ia mendorong perbaikan tata kelola pergudangan guna mencegah pencemaran lingkungan kembali terulang.
“Masih ada lima sampai enam gudang yang sejenis kimia,” ujarnya kepada wartawan di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tangsel, Kamis (12/1/2026).
Syamsul menegaskan, ancaman serius terhadap ekosistem telah nyata terjadi. Kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama disebut telah mencemari aliran air hingga menyebabkan ikan – ikan di Kali Jaletreng mati. Aliran tersebut diketahui bermuara ke Sungai Cisadane.
Pria yang biasa disapaan Atul ini mengaku telah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke kawasan pergudangan Taman Tekno BSD bersama sejumlah anggota DPRD Kota Tangsel lainnya.
Dari hasil peninjauan tersebut, ia menyebut tidak ditemukan adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang memadai.
“Kalau saya melihat langsung ke lokasi, limbah atau aliran kimia itu tidak tersaring melalui IPAL, tetapi langsung mengalir ke kali,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut harus segera dibenahi agar pencemaran ekosistem tidak terus berulang. Seluruh pengelola kawasan pergudangan, termasuk di Taman Tekno BSD, diminta bersikap kooperatif apabila pemerintah daerah membutuhkan data kepemilikan bangunan dan perizinan.
Data penting tersebut meliputi keberadaan IPAL, Sertifikat Laik Fungsi (SLF), serta persyaratan lain yang telah diatur dalam peraturan daerah. Meski kawasan pergudangan Taman Tekno BSD berdiri sebelum pemekaran Kota Tangsel, Atoel menegaskan seharusnya telah dilakukan penyesuaian dan pembaruan regulasi dengan pemerintah daerah saat ini.
“Idealnya setiap unit gudang memiliki IPAL sendiri, bukan dibuat secara global. Itu pun faktanya tidak berfungsi dengan baik,” katanya.
Ia mengingatkan, apabila persoalan tersebut tidak segera dibenahi, maka kejadian pencemaran serupa berpotensi terus berulang. Atoel pun berharap pihak pengelola BSD City bersedia duduk bersama untuk mencari solusi bersama.
“Kalau ini tidak dibenahi, bukan mustahil kejadian seperti ini akan terus terjadi. Saya berharap ada pihak operasional dari BSD untuk duduk bareng. Jangan sampai BSD hanya mau enaknya sendiri,” tegasnya.
Hingga berita ini dipublish, belum ada keterangan resmi dari pengelola gudang. Upaya konfirmasi juga telah dilakukan kepada pihak pengembang BSD City, namun belum mendapat tanggapan. (Dra)





















