Tekan Inflasi, Benyamin Ajak Pejabat Puasa Senin-Kamis

Tekan Inflasi, Benyamin Ajak Pejabat Puasa Senin-Kamis

Detaktangsel.com PAMULANG - Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) tengah berupaya menekan inflasi yang salah dengan mengurangi tingkat konsumtif dengan cara puasa. Hal tersebut dikatakan Wakil walikota Tangsel Benyamin Davnie saat memimpin rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Pranaya Suits Hotel, BSD, Senin (6/4/2015).

"Kalau di Depok ada One Day No Rice, coba kita bikin program untuk menguragi tingkat konsumsi. Misalnya, puasa Senin-Kamis," katanya.

Benyamin mengatakan, salah satu penyebab terjadinya inflasi karena tingginya tingkat konsumsi. Bila angka konsumstif ditekan , salah satu penyebab inflasi bisa dikurangi. "Sektor konsumtif ini harus kita jaga. Coba misalnya dibuat program yang bisa ditularkan ke masyarakat," ujarnya.

Pria yang akrab dipanggil Ben ini melanjutkan, Pemda juga harus berupaya agar produk warga di pasaran terjamin. Paling tidak, pasokan di pasaran tersedia dengan aman. Sebab, kata dia, saat terjadi kelangkaan maka, dampak yang terjadi adalah inflasi.

"Paling tidak, ketersediaannya dijaga. Meski tidak bisa kita penuhi, tapi pasokan tetap aman," ungkapnya.

Untuk menjaga agar kebutuhan atau produk di pasaran aman maka, upaya yang dilakukan adalah dengan memastikan distribusinya lancar. Maka itu, semua sektor yang ada di pemda memiliki tugas dan peran yang sama dalam upaya pencegahan inflasi ini.

"Dinas Bina Marga, bukan saja bertugas untuk membuat jalan mulus. Tapi juga, bagaimana supaya dengan jalan itu distribusi produk jadi lancar. Begitu juga Dishubkominfo, tidak saja menjaga supaya lalu lintas tidak macet. Melainkan, harus bisa memastikan bahwa tidak ada yang mengganggu proses distribusi produk itu," tuturnya.

Lebih jauh dikatakan Bang Ben, pentingnya peranan ini mengingat, Tangsel tidak memiliki produk unggulan. Dalam hal ini, bukan sebagai wilayah sentra sebuah produk kebutuhan pokok. Misalnya, beras, jagung atau produk pertanian lain. Jika sektor distribusi ke daerah ini tidak dijaga, imbasnya tidak ada produk pertanian di kota ini.

"Sekarang lahan pertanian persawahan cuma 150 hektare. Ini pun sudah lahan milik pengembang. Kondisi ini harus kita siasati dengan mendorong fungsi masyarakat dalam menekan inflasi dari tingkat konsumtifnya," jelas mantan birokrat di Kabupaten Tangerang ini.

Sebagai informasi, data Bank Indonesia menunjukan bahwa Banten dan DKI Jakarta selalu mengalami peningkatan inflasi di atas rata-rata nasional. Adapun penyumbang inflasi di Banten sendiri, didominasi dari wilayah Tangerang.

Dari area yang disurvei Bank Indonesia, urutan pertama kenaikan inflasi terjadi di wilayah Kota Tangerang, sebagai wakil Tangerang dalam survei ini. Tangerang, menyumbang inflasi bagi Banten sebesar 73 persen. Urutan kedua, dari wilayah Serang sebesar 14 persen. Sisanya, disumbang oleh wilayah Cilegon dengan persentasi 13 persen dari tingkat inflasi di Banten.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online