Print this page

Sejarah Selalu Berulang

Sejarah Selalu Berulang

Detaktagsel.com, OPINI -- Menurut teori bapak sosiolog Islam Ibnu Khaldun, sejarah memang berulang. Pada satu era ia kembali menjadi bagian dari kehidupan manusia dan peran antara yang satu dengan yang lain, hanya berubah pada nama dan tempat saja. Sedangkan sifat dan kerangkanya persis sama. Itulah sejarah yang berulang.

Dahulu, Al Ghazali dengan momentum yang tepat mematahkan peran filosof pada barisan pemikiran Ibnu Sina (Avvicena) dan Al Farabi yang sedang mapan. Al Ghazali dipandang sebagai kaum positivisme dalam Islam. Ia melahirkan buku, "Kekacauan Berpikir Filosof" (Tahafut Falasifah). Atas keberhasilannya, Al Ghazali mendapat tempat di hati rezim, lalu posisi politik setiap idenya disanjung.

Dalam ajang perdebatan filsafat secara filosofis, Al Ghazali di pandang berhasil membuat istana yang megah untuk umat Islam. Namun keberhasilan tersebut dipandang sebagian orang justru berdampak kepada stagnasi umat, karena terlena di dalam istana mewah yang berpikir mapan.

Atas keterlenaan tersebut, munculah, Ibnu Rusyd (Avverios) yang merasakan kalau istana Al Ghazali perlu di runtuhkan. Maka lahirlah buku, "Kekacauan di Atas Kekacauan" (Tahafut al Tahafut). Ibnu Rusyd pun mendapat tempat. Maka dengan demikian filsafat tumbuh dan berkembang lagi.

Sahabat Tangsel yang budiman!
Apa yang dapat kita petik dari petikan sejarah tersebut? Tiada lain adalah benturan pemikiran dalam sejarah memang tidak pernah berhenti. Ia hadir dalam momen suatu pemikiran dan mencapai puncaknya lalu itu kembali lagi pada titik nadir untuk selanjutnya berotasi pada masa yang akan datang.

Ketahuilah sahabat, bahwa perang pemikiran sering terjadi berawal dari kepentingan politik, kemudian beralih menjadi theologi, lalu filsafat dan seterusnya sampai ke sisi2 terdalam seni dan budaya hingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang trend pada masanya.

Semisal contoh dahulu di Sumatra, polemik dan benturan politik antara Hamzah Fanzuri dengan Nurruddin Ar Raniri dalam kesultanan Aceh pada dasarnya tidak jauh dari bentuk benturan pemikiran antara kaum yang memahami tekstual agama dengan kaum kontekstual agama. Nurruddin Ar Raniri mendobrak kemapanan tasawuf wujudiyah yang diusung Fansuri melalui hukum Islam yang dianggap sedang trend dan diterima oleh masyarakat.

Nurruddin Ar Raniri berhasil untuk sekian tahun lamanya. Akan tetapi Ar Raniri harus merelakan itu terjadi lagi pada masa sesudah ia berhasil dengan kehadiran, Syamsuddin Sumatrani dan Rauf Singkli. Keduanya justru mengusir Nurruddin Ar Raniri untuk pulang ke Ranir, daerah asalnya di India.

Bila ditarik lebih mengerucut dari kepulauan Sumatra di Ranahminang Sumatra Barat, tragedi kaum tua dan kaum muda sering terjadi yang melibatkan Harimau Nan Salapan di antarnya, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Peobang yang sangat menoreh luka sejarah yang dalam.

Di Sulawesi Selatan, perseteruan antara Arung Palaka dan Sultan Hasanudin yang sama2 memiliki jiwa kesatria. Belum lagi di tanah Jawa. Konflik yang terjadi dalam badan organisasi Dewan Wali (Wali Songo) yang dikenal dengan, Kaum Putihan (Sunan Ampel Cs) dan Kaum Abangan (Sunan Kalijaga Cs). Perseteruan dalam menyikapi sudut pandang mashab yang berbeda.

Dan di Banten sendiri pertikaian antara Sultan Haji dan ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa, mengharuskan ayahnya terusir dari istana Surosowan dan mendekam dibalik jeruji besi akibat perbedaan sudut pandang rasio politik internal conflict.

Artinya, dapat ditegaskan kalau perbedaan memang sudah menjadi hukum alam. Khususnya, perbedaan pandangan dan pikiran kaum tua dan kaum muda. Dan kesemuanya itu hanya bisa dipertemukan dengan suatu kearifan pikiran.

Jika dirunut, apa yang berbeda dengan pergesekan pemikiran dalam sejarah? Hanya yang berbeda waktu dan tempat, lalu topik yang diperdebatkan, namun hakikatnya adalah sama. Sama-sama pergesekan pemikiran. Inilah bentuk sejarah yang tidak sama, tetapi memiliki kesamaan dengan teori yang disebut oleh Ibnu Khaldun : Sejarah selalu berulang salah satu bentuk hukum alam yang berlaku.

Untuk itu, agar tidak terjadi pergesekan pemikiran yang lebih tajam antar sesama kita dalam menyikapi situasi Pilpres,Pilgub,Pilbub,Pilkot, dan Pileg mendatang, saya menyambut baik kehadiran WA grub ini yg saya anggap merupakan jamaah WA-iyah..dimana kita bisa saling berbagi ilmu yang manfaat tanpa ada sekat di dalamnya. Yang tua bisa menyemangati dan yang muda bisa berkreasi. Yang bisa menulis bisa berbagi, dan yang tak bisa menulis bisa menikmati. Walhasil, kita bisa duduk dalam satu majelis kecil ini bersama2 menjalin hubungan persaudaraan yang erat. Terlepas dari perbedaan pandangan politik, suku, bangsa dan agama. Tua maupun muda. Saling mencintai, saling menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan agar keselarasan dalam hidup tumbuh harmoni bersama alam. Sehingga pergesekan pemikiran dalam menyikapi sebuah masalah dapat diminimalisir meski sejarah akan terus berulang.

Dan satu hal yang paling penting sebelum saya menyudahi tulisan saya pagi ini adalah; Peliharalah 'pusaka' yang ada dalam diri kita agar hidup menjadi indah. Apakah pusaka yang saya maksud? Dia adalah: UCAPAN dan PRILAKU. Karena dari sanalah orang akan mengukur pendalaman kita.

Wallahu a'lam bishawab!

Padepokan Roemah Boemi Pamulang
24 Juni 2022

Oleh: Agam Pamungkas Lubah