Pendapatan Per Kapita Tangsel Rp 11,7 Juta

Pendapatan Per Kapita Tangsel Rp 11,7 Juta

detaktangsel.comTangsel - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel mencatat pendapatan per kapita di daerah bekas pemekaran Kabupaten Tangerang itu pada tahun 2013 mencapai Rp 11,7 juta per tahun atau rata-rata perbulan Rp 975 ribu. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2012 yang mencapai Rp 10,88 juta dan tahun 2011 yang mencapai Rp 9,97 juta.

Kepala BPS Kota Tangsel Darusman menjelaskan angka per kapita di Kota Tangsel terhitung tinggi dibanding daerah lainnya di Provinsi Banten. Kota Tangsel hanya kalah dari Kota Cilegon untuk ukuran pendapatan per kapita. Ini didasarkan pada industry besar di Kota Cilegon, seperti Krakatau Steel yang menunjang pertumbuhan ekonomi.

Adapun pendapatan per kapita adalah sebagai analisis untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat suatau daerah secara umum. Pendapatan per kapita juga salah satu strategi untuk mengetahaui seberapa besar masyarakat mendapat kue pembangunan.

"Jadi hasil Rp 11,7 juta itu nilai rata-rata seluruh penduduk Kota Tangsel yang jumlahnya mencapai 1,3 juta jiwa," katanya, kepada wartawan, kemarin.

Darusman menilai pendapatan per kapita Rp 11,7 juta jiwa cukup wajar untuk ukuran Kota Tangsel. Menurutnya dengan Kota yang sektor perekonomiannya ditunjang sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta pengangkutan dan komunikasi, nilai tersebut sudah sesuai.

Ia mencatat dari prosentase produk domestik bruto Kota Tangsel, didapatkan bila sektor paling besar menyumbang pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 31,21 persen, disusul sektor jasa 15,76 persen dan sektor pengangkutan serta komunikasi dengan 14,87 persen.

"Sektor tersebut yang mendorong kenapa pertumbuhan ekonomi di Kota Tangsel relatif tinggi," ujarnya.

Ia pun memprediksi pertumbuhan per kapita di Kota Tangsel pada tahun ini akan tetap tinggi. Mengingat pertumbuhan jasa dan perdagangan terus mengalami kemajuan. Asumsinya, pertumbuhan sektor perdagangan yang terus mengalami peningkatan, bisa terlihat dari banyaknya sentra-sentra perdagangan yang terus dibangun. Belum lagi, pertumbuhan properti yang juga ikut mengeliat pertumbuhan ekonomi.

Mengenai angka persis kenaikannya, lanjut Darusman, ia tidak mengetahui secara pasti karena ada banyak faktor penunjangnya. Misal angka inflasi, maupun adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Jadi harus melihat faktor-faktor penunjangnya tidak bisa diukur pada satu sisi. Kenaikan BBM juga bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Meski nanti bakal terjadi kenaikan harga BBM, ia melihat tidak berimpiklasi cukup besar, mengingat masyarakat kelas menengahnya terhitung tinggi.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online