Minim Informasi, Peserta KB MOP di Tangsel Rendah

Minim Informasi, Peserta KB MOP di Tangsel Rendah

detaktangsel.com SETU - Partisipasi pria di Kota Tangsel untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) masih rendah. Tercatat persentasi pria dalam hal dari total hanya satu persen. Salah satu penyebabnya, lantaran minimnya informasi tentang medis operasi pria (MOP) kepada masyarakat.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, minimnya akses laki-laki terhadap perolehan informasi pelayanan KB, dan kesehatan reproduksi. Masyarakat masih awam mengenai KB bagi pria khususnya MOP/vasektomi. "Mereka masih berpikir bahwa operasi tersebut akan menganggu kesehatannya padahal aman,

"ungkapnya saat menghadiri acara Gerak Jalan Santai yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Taman Kota II BSD, Setu, Mingu (27/3).

Menurutnya, vasektomi ini merupakan yang paling efektif dalam mensukseskan program KB alat kontrasepsi yang lain. "Jika alat-alat lain khususnya yang dipakai wanita bisa dicabut atau kelupaan pemakaian, vasektomi tidak bisa bisa dan sifatnya permanen," katanya.

Vasektomi, sambung Benyamin, dapat mengendalikan penduduk di Kota Tangsel sangat penting. Saat ini penduduk kota dengan tujuh kecamatan ini mencapai 1,4 juta jiwa. Setiap tahunnya mengalami penambahan 3,4 persen. "Jika terus dibiarkan hal ini bisa menimbulkan masalah sosial. Seperti, keterbatasan perolehan pekerjaan, pendidikan serta kesehatan akibat kepadatan penduduk," terangnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya akan terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait keamanan dan manfaat MOP. Walau tingkat partisipasi pria dalam KB ini masih rendah. Namun, kesadaran kaum wanita masih tinggi. "Persentase partisipasi keikutsertaan KB perempuan mencapai 75 persen," ujarnya.

Sementara anggota Komisi IX DPR RI Irgan Chairul Mahfidz menuturkan, untuk menyukseskan program KB di Indonesia perlu cara yang kreatif. Sudah tidak zaman lagi dengan cara indokrinasi seperti ceramah atau seminar. "Saat ini masyarakat membutuhkan hal-hal yang ringan agar bisa langsung dicerna," terang politisi PPP ini.

Ke depannya, kata dia, masyarakat harus mengerti dan sadar bahwa proses perencanaan perkawinan termasuk memiliki anak haru terprogram sehinga bisa mewujudkan keluarga yang bahagia. Salah satunya dengan menerapkan dua anak jarak usia anak tidak terlalu dekat. "Tidak banyak anak maka biaya hidup menjadi tidak terlalu berat sehingga bisa mendapatkan kesejahteraannya," pungkasnya.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online