Mengenal Tradisi TABOT di Bengkulu

Perayaan Tabot di Bengkulu Perayaan Tabot di Bengkulu

detaktangsel.com - Pastinya para pembaca sudah pernah mendengar upacara tradisional 'Tabot', yang pelaksanaan dilakukan sekali dalam setahun pada bulan Muharram.

Ingin lebih tahu tentang tradisi Tabot di salah satu suku di provinsi Bengkulu?

Tabot adalah salah satu adat-istiadat yang berasal dari pulau Sumatera tepatnya di Bengkulu. Tabot sudah tidak asing lagi bagi penduduk Bengkulu dan sekitarnya, namun masyarakat dipulau lain masih belum mengenal apa itu tabot.

Tabot merupakan upacara tradisional masyarakat Bengkulu, menurut sejarahnya tabot di buat untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husen dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin zaid di Padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam, makanya setiap tanggal 1-10 Muharam masyarakat Bengkulu selalu merayakan upacara tabot.

Pertama kali perayaan tabot di Bengkulu di laksanakan oleh Syeh Burhannudindan (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak cucu dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot.

Sebenar nya inti dari Upacara tabot itu adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamkan nya di Padang karbala.

Menurut masyarakat Bengkulu, tabot tidak tahu pasti kapan masuknya di Bengkulu. Namun, mereka yakin bahwa tabot berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syiah ini di bawa oleh para tukang yang membangun benteng Marlbourght di Bengkulu yang di datang kan oleh Inggris dari Madras dan Bengali.

Karena mereka merasa cocok tinggal di Bengkulu akhirnya memutuskan untuk menetap di Bengkulu. Daerah tempat mereka tinggal disebut Berkas, Kemudian mereka mewariskan tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengal kepada masyarakat Bengkulu, dan sekarang mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.

Selain adanya nilai agama di dalam tabot ada juga nilai sejarah, dan nilai sosial. Nilai agama yang terdapat dalam tabot adalah mengambil tanah, mengingatkan manusia akan asal penciptaannya. Sedangkan nilai sejarahnya manifestasi kecintaan dan mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya banyak nilai-nilai kebijaksanaan yang dapat digali dan dijadikan landasan untuk mengarungi kehidupan, tetapi jika tidak disikapi dengan bijaksana, maka upacara Tabot akan menjadi sekedar festival budaya yang kehilangan makna dasarnya. Meriah dalam pelaksanaan (festival) tapi kehilangan sepiritnya.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online