SMA N 9 Bantah Dituding Lakukan Kekerasan

Kepala SMA N 9 Kota Tangsel, Ahmad Nana Mahmur  (sebelah kiri) dalam jumpa pers Kepala SMA N 9 Kota Tangsel, Ahmad Nana Mahmur (sebelah kiri) dalam jumpa pers

detaktangsel.com - CIPUTAT, Peristiwa pembully-an, pelecehan seksusal dan kekerasan fisik di sekolah terjadi di Kota Tangsel. Bahkan, orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke Mapolda Metro Jaya.

Siswa SMA kelas X berinisial CPN, didiuga menjadi korban pembully-an seniornya di SMA N 9 Kota Tangsel. Atas dasar itu, orang tua korban JS melaporkan ke pihak berwajib.

Informasi yang dihimpun peristiwa pembully-an tersebut terjadi pada Selasa (10/8) sekitar pukul 15.30 WIB di salahsatu ruang kelas. Pada saat itu, korban yang baru tujuh hari bersekolah terlihat mengenakan pakaian ketat.

Padahal, aturan di sekolah yang berada di kelurahan Serua, Ciputat tidak memperbolehkan siswa/siswinya mengenakan pakaian seragam ketat.

Namun, korban tidak terima diberikan teguran senionrnya kelas XII itu. Terpancing emosi, kakak kelas beinisial I kemudian memegang baju korban. Korbanpun Berontak hingga kancing bajunya lepas dua buah. Kedua rekan pelaku berinisial N dan J membantu pelaku untuk menegur agar memakai pakaian yang longgar.

Usai kejadian tersebut, korban menjauhi ketiga kakak kelasnya. Permasalah tersebut ternyata berbuntut panjang. Tidak terima dengan anaknya dipelakukan seperti itu. Kemudian, esok harinya, Rabu (13/8) melaporkan ke pihak sekolah. Akhirnya, pada hari itu, dihadapan pihak sekolah, orangtua korban, korban serta pelaku telah meminta maaf.

Namun, orang tua korban tidak puas dengan cara seperti itu. JS kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Ciputat. Tapi, dari Mapolsek Ciputat disarankan untuk melaporkan ke Subdit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Mapolres Jakarta Selatan. Lantaran, di Mapolsek tersebut belum mempunyai tim PPA.

pada Jumat (15/8), JS melaporkan ke Mapolda Metro Jaya.

"Saya sedang perjalanan ke Polda Metro Jaya, ingin melaporkan kasus ini karena sudah melakukan pelecehan," ungkapnya, Jumat (14/8).

Terpisah Kepala SMA N 9 Kota Tangsel, Ahmad Nana Mahmur mengatakan, mengakui adanya pembully-an yang dilakukan ketiga anak muridnya yakni I, N dan J. Bahkan, ketiga siswa kelas XII sudah diberikan peringatan.

"Sudah kami tindak pelakunya dengan memberikan surat peringatan," katanya.
Menurutnya kejadian tersebut sudah diselesiakan secara kekeluargaan. Ketiga pelakupun sudah meminta maaf kepada korban dan orang tuanya.

"Padahal, esok harinya orang tua korban sudah bertemu dan membereskan persoalannya. Tetapi, kenapa harus lapor ke kepolisian," ujarnya.

Kata dia, pihaknya menyesalkan adanya kejadian dan pelaporan ke pihak kepolisian. Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi pembelajaran terhadap sekolah agar lebih meningkatkan pengawasan.

"Kalau bullying ada. Tetapi untuk pelecehan dan penganiayaan seperti yang diberitakan media itu tidak benar," terangnya.

Salahseorang pelaku inisial I, membantah telah melakukan penganiayaan dan pelecehan seksual kepada korban.

"Kami hanya menegur agar tidak memakai seragam ketat. Tetapi memang saya terpancing emosi karena CPN omongannya nantangin saya," katanya.

Ia membantah jika dalam peristiwa tersebut ada pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada korban. Hanya saja, dua kancing seragam korban lepas karena ditarik paksa tangannya.

"Kalau memang ada kekerasan dan pelecehan seksual silahkan dibuktikan dengan visum," ujarnya.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online