Sering Kebanjiran karena Pengembang Perumahan, Warga Ancam Demo Pemkot

Salahsatu rumah warga di RT 01/07 kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Tangsel, yang mengalami kebanjiran akibat adanya pengurukan oleh pengembang. Salahsatu rumah warga di RT 01/07 kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Tangsel, yang mengalami kebanjiran akibat adanya pengurukan oleh pengembang.

detaktangsel.com CIPUTAT - Lantaran terus-menerus terendam banjir, sejumlah warga di RT 01/07 Kelurahan Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ancam bakal menggeruduk kantor pemkot Tangsel.

Hal ini menyusul setelah hujan deras yang terjadi pada Minggu (5/4) sore sekitar pukul 16,00 Wib, kembali membuat warga terpaksa harus mengungsi karena tempat tinggal mereka terendam banjir hingga mencapai pinggang orang dewasa.

Diketahui, banjir yang disebabkan adanya rencana pengembang perumahan Kayu Putih Residence yang menguruk drainase warga tersebut, sedikitnya telah merendam empat rumah warga yang tinggal di RT 01/07.

"Sudah dua bulan rumah kami terendam banjir. Malam ini pun kami terpaksa ngungsi lagi kerumah saudara akibat hujan deras," terang H. Ahmad (65), Minggu (5/4).

Mantan ketua RW yang sudah puluhan tahun tinggal di RT 01/07 nomer 8A ini menuturkan, pengurukan yang dilakukan pengembang Perumahan Kayu Putih Resience dilokasi lahan yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya ini, dituding menjadi salahsatu penyebab banjir. Padahal, dia bersama warga lainnya telah meminta agar pengembang membuka kembali drinase yang telah diuruk pengembang.

"Kami cuma minta pengembang membuka drainase yang sudah di uruk, tetapi sampai saat ini permintaan kami tidak di respon," ujarnya.

Karena tidak di respon oleh pengembang, H. Ahmad bersama warga lainnya akan mengadukan masalah ini kepada Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany.

"Minggu-minggu ini, kami akan mengadukan masalah ini ke bu Wali (Airin Rachmi Diany-red)," bebernya.

Hal sama juga di utarakan oleh H. Abdullah, pria yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat usaha tani ternak jenis bebek ini gulung tikar lantaran seluruh kandang ternaknya yang berjumlah lima buah saat ini terendam banjir. Padahal, adanya pengurukan yang dilakukan oleh pengembang sebelumnya telah di stop oleh Satpol PP dan BP2T Tangsel. Namun, hingga kini proses pembangunan tetap berjalan.

"Walau sudah ada penyetopan, proses pembangunannya tetap berjalan, mereka justru membuat pagar yang justru akan menambah banjir," katanya.

Akibat adanya aktivitas disekitar lokasi yang di stop Satpol PP dan BP2T Tangsel namun tidak juga di gubris oleh pengembang, Abdullah mengancam bakal melakukan aksi unjuk rasa dengan mendatangi kantor Pemkot. Sebab selama ini Pemkot Tangsel tidak bisa bertindak tegas terhadap ulah pengembang tersebut.

"Jangan hanya di segel saja, namun tindakan tegasnya harus ada. Makanya kita akan melakukan demo ke Pemkot untuk menanyakan masalah ini," tandas Abdullah.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online