RIWAYAT SYEKH MAULANA MANSYURUDIN (Batu Qur'an-Pandeglang)

Ilustrasi/Foto : campurcom.blogspot.com Ilustrasi/Foto : campurcom.blogspot.com

detaktangsel.com Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal dengan nama Sultan Haji, beliau adalah putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa (raja Banten ke-6).

Sekitar tahun 1651 M, Sultan Agung Abdul Fatah berhenti dari kesultanan Banten, dan pemerintahan diserahkan kepada putranya yaitu Sultan Maulana Mansyurudin dan beliau diangkat menjadi Sultan ke-7 Banten, kira-kira selama 2 tahun menjabat menjadi Sultan Banten kemudian berangkat ke Baghdad Iraq untuk mendirikan negara Banten di tanah Iraq, sehingga kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putranya Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli. Pada saat berangkat ke Bagdad Iraq, Sultan Maulana Mansyuruddin diberi wasiat oleh Ayahnya.

"Apabila engkau mau berangkat mendirikan negara di Baghdad janganlah menggunakan/ memakai seragam kerajaan nanti engkau akan mendapat malu, dan kalau mau berangkat ke Baghdad untuk tidak mampir kemana-mana harus langsung ke Baghdad, terkecuali engkau mampir ke Mekkah dan sesudah itu langsung kembali ke Banten. Setibanya di Baghdad, ternyata Sultan Maulana Mansyuruddin tidak sanggup untuk mendirikan negara Banten di Bagdad sehingga beliau mendapat malu. Didalam perjalanan pulang kembali ke tanah Banten, Sultan Maulana Mansyuruddin lupa pada wasiat Ayahnya, sehingga beliau mampir di pulau Menjeli di kawasan wilayah China, dan menetap kurang lebih 2 tahun di sana, lalu beliau menikah dengan Ratu Jin dan mempunyai putra satu.

Selama Sultan Maulana Mansyuruddin berada di pulau Menjeli China, Sultan Adipati Ishaq di Banten terbujuk oleh Belanda sehingga diangkat menjadi Sultan resmi Banten, tetapi Sultan Agung Abdul Fatah tidak menyetujuinya dikarenakan Sultan Maulana Mansyuruddin masih hidup dan harus menunggu kepulangannya dari negeri Baghdad, karena adanya perbedaan pendapat tersebut sehingga terjadi kekacauan di Kesultanan Banten. Pada suatu ketika ada seseorang yang baru turun dari kapal mengaku-ngaku sebagai Sultan Maulana Mansyurudin dengan membawa oleh-oleh dari Mekkah. Akhirnya orang-orang di Kesultanan Banten pun percaya bahwa Sultan Maulana Mansyurudin telah pulang termasuk Sultan Adipati Ishaq.

Orang yang mengaku sebagai Sultan Maulana Mansyuruddin ternyata adalah raja pendeta keturunan dari Raja Jin yang menguasai Pulau Menjeli China. Selama menjabat sebagai Sultan palsu dan membawa kekacauan di Banten, akhirnya rakyat Banten membenci Sultan dan keluarganya termasuk ayahanda Sultan yaitu Sultan Agung Abdul Fatah. Untuk menghentikan kekacauan di seluruh rakyat Banten Sultan Agung Abdul Fatah dibantu oleh seorang tokoh atau Auliya Alloh yang bernama Pangeran Bu'ang (Tubagus Bu'ang), beliau adalah keturunan dari Sultan Maulana Yusuf (Sultan Banten ke-2) dari Keraton Pekalangan Gede Banten. Sehingga kekacauan dapat diredakan dan rakyat pun membantu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu'ang, sehingga terjadi pertempuran antara Sultan Maulana Mansyuruddin palsu dengan Sultan Abdul Fatah dan Pangeran Bu'ang yang dibantu oleh rakyat Banten, tetapi dalam pertempuran itu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu'ang kalah sehingga dibuang ke daerah Tirtayasa, dari kejadian itu maka rakyat Banten memberi gelar kepada Sultan Agung Abdul Fatah dengan sebutan Sultan Agung Tirtayasa.

Peristiwa adanya pertempuran dan dibuangnya Sultan Agung Abdul Fatah ke Tirtayasa akhirnya sampai ke telinga Sultan Maulana Mansyuruddin di pulau Menjeli China, sehingga beliau teringat akan wasiat ayahandanya, lalu beliau pun memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ke tanah Banten beliau pergi ke Mekkah untuk memohon ampunan kepada Alloh SWT di Baitulloh Mekkah karena telah melanggar wasiat ayahnya, setelah sekian lama memohon ampunan, akhirnya semua perasaan bersalah dan semua permohonannya dikabulkan oleh Alloh SWT sampai beliau mendapatkan gelar kewalian dan mempunyai gelar Syekh di Baitulloh.

Setelah itu beliau berdoa meminta petunjuk kepada Alloh untuk dapat pulang ke Banten akhirnya beliau mendapatkan petunjuk dan dengan izin Alloh SWT beliau menyelam di sumur zam-zam, kemudian muncul suatu mata air yang terdapat batu besar ditengahnya lalu oleh beliau batu tersebut ditulis dengan menggunakan telunjuknya yang tepatnya di daerah Cibulakan Cimanuk-Pandeglang Banten, sehingga oleh masyarakat sekitar di keramatkan dan dikenal dengan nama keramat Batu Qur'an. Setibanya di kesultanan Banten dan membereskan semua kekacauan disana, dan memohon ampunan kepada ayahanda Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa. Sehingga akhirnya Sultan Maulana Mansyuruddin kembali memimpin Kesultanan Banten, selain menjadi seorang Sultan beliau pun mensyiarkan islam di daerah Banten dan sekitarnya.

Dalam perjalanan menyiarkan Islam beliau sampai ke daerah Cikoromoy lalu menikah dengan Nyai Sarinten (Nyi Mas Ratu Sarinten) dalam pernikahannya tersebut beliau mempunyai putra yang bernama Muhammad Sholih yang memiliki julukan Kyai Abu Sholih. Setelah sekian lama tinggal di daerah Cikoromoy terjadi suatu peristiwa dimana Nyi Mas Ratu Sarinten meninggal terbentur batu kali pada saat mandi, beliau terpeleset menginjak rambutnya sendiri, konon Nyi Mas Ratu Sarinten mempunyai rambut yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya.

Akibat peristiwa tersebut maka Syekh Maulana Mansyur melarang semua keturunannya yaitu para wanita untuk mempunyai rambut yang panjangnya seperti Nyi mas Ratu Sarinten. Nyi Mas Ratu Sarinten kemudian dimakamkan di Pasarean Cikarayu-Cimanuk. Sepeninggal Nyi Mas Ratu Sarinten lalu Syekh Maulana Mansyur pindah ke daerah Cikaduen-Pandeglang dengan membawa khodam Ki Jemah, lalu beliau menikah kembali dengan Nyai Mas Ratu Jamilah yang berasal dari Caringin-Labuan. Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut, di dalam perjalanannya di tengah hutan Pakuwon Mantiung Sultan Maulana Mansyuruddin beristirahat di bawah pohon waru sambil bersandar bersama khodamnya Ki Jemah, tiba-tiba pohon tersebut menjongkok seperti seorang manusia yang menghormati, maka sampai saat ini pohon waru itu tidak ada yang lurus.

Ketika Syekh Maulana Mansyur sedang beristirahat dibawah pohon waru beliau mendengar suara harimau yang berada di pinggir laut. Ketika Syekh Maulana Mansyur menghampiri ternyata kaki harimau tersebut terjepit kima, setelah itu harimau melihat Syekh Maulana Mansyur yang berada di depannya, melihat ada manusia di depannya harimau tersebut pasrah bahwa ajalnya telah dekat, dalam perasaan putus asa harimau itu mengaum kepada Syekh Maulana Mansyur, maka atas izin Alloh SWT tiba-tiba Syekh Maulana Mansyur dapat mengerti bahasa binatang, Karena beliau adalah seorang manusia pilihan Alloh dan seorang Auliya dan Waliyulloh. Maka atas izin Alloh pulalah, dan melalui karomahnya beliau kima yang menjepit kaki harimau dapat dilepaskan, setelah itu harimau tersebut di bai'at oleh beliau, lalu beliau pun berbicara "Saya sudah menolong kamu! saya minta kamu dan anak buah kamu berjanji untuk tidak mengganggu anak, cucu, dan semua keturunan saya". Kemudian harimau itu menyanggupi dan akhirnya diberikan kalung surat Yasin di lehernya dan diberi nama Si Pincang atau Raden Langlang Buana atau Ki Buyud Kalam. Ternyata harimau itu adalah seorang Raja/Ratu siluman harimau dari semua Pakuwon yang 6. Pakuwon yang lainnya adalah :

  1. Ujung Kulon yang dipimpin oleh Ki Maha Dewa
  2. Gunung Inten yang dipimpin oleh Ki Bima Laksana
  3. Pakuwon Lumajang yang dipimpin oleh Raden Singa Baruang
  4. Gunung Pangajaran yang dipimpin oleh Ki Bolegbag Jaya
  5. Manjau yang dipimpin oleh Raden Putri
  6. Mantiung yang dipimpin oleh Raden langlang Buana atau Ki Buyud Kalam atau si pincang.

Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen. Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672M dan di makamkan di Cikaduen Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat sekitar dan dikeramatkan.

Semoga dari riwayat diatas pembaca bisa mengambil hikmah dari napak tilas perjalanan para waliyullaah Syekh Maulana Mansyurudin dan sejarah Batu Qur'an. Bagi pembaca yang ingin mengunjungi wisata batu Qur'an, lokasi batu Qur'an terletak di kaki gunung karang, tepatnya di desa kadubumbang, kecamatan cimanuk, kabupaten pandeglang, kurang lebih 20 KM dari kota pandeglang. Menurut cerita penjaga pemandian Cibulakan, air kolam pemandian yang dalamnya hanya sekitar 1 meter hingga dasar kolam tak bisa kering sekalipun musim kemarau berlangsung panjang, dan konon pengeringan kolam pernah dilakukan sebelumnya untuk meneliti keberadaan Batu Qur'an tersebut, dan anehnya air kolam tidak pernah mau kering. Walaupun disedot pipa air bertekanan ratusan kubik perjam. Bila anda ingin berziarah ke Batu Qur'an Cibulakan harus naik mobil kecil, karena Bis tidak bisa masuk, tapi bagi yang menggunakan Bis bisa di parkir ditempat yang disediakan, lalu menggunakan angkutan umum.

Menurut seorang penjaga, secara kasat mata batu Qur'an tersebut akan terlihat seperti batu pada umumnya. Dan katanya, dengan cara apapun dan dengan alat apapun tidak akan bisa terlihat tulisan Al-Qur'an di batu tersebut. Tulisan Al-Qur'an pada batu tersebut hanya bisa dilihat dengan mata batin, hanya orang yang hati dan jiwanya bersih bisa melihat tulisan Al-Qur'an tersebut. Sebagian peziarah yang datang meyakini air dari kolam Batu Qur'an memiliki khasiat sebagai obat. Kemudian bagi yang bisa menyelam dan berenang sambil mengitari Batu Qur'an sebanyak 7 kali, permintaannya akan terkabul. Walloohu a'lam bishowwab.

Go to top

Copyright ¬© 2013  Detak Group. All rights reserved.

Support by pamulang online